Putri,Anak dibawah umur yang dipekerjakan di Cafe Remang-Remang Di Lampung Timur.

Lampung Timur,lantainews.com -Ketentuan hukum terkait dengan perlindungan anak secara umum diatur dalam Pasal 52 – Pasal 66 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.
Kemudian, dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU 23/2002”) dan perubahannya juga telah diatur secara khusus seputar hukum perlindungan anak.
Aturan mengenai perlindungan anak dari eksploitasi didasarkan pada Pasal 13 ayat (1) huruf b UU 23/2002 yang mengatur bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapatkan perlindungan, salah satunya, dari perlakuan eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual.
Sedangkan, pengertian “eksploitasi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah pemanfaatan untuk keuntungan diri sendiri, penghisapan, pendayagunaan, pemerasan atas diri orang lain hanya untuk kepentingan ekonomi semata dan tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan,sedangkan mengacu ke Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU 35/2014”):
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (Delapan Belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Namun Dari pantauan Awak Media Lantainews.com Ekploitasi Anak dibawah umur masih marak terjadi di Lampung Timur.contohnya Di Caffe terbuka di pinggir pantai Tempat pelelangan Ikan di Desa muara gading mas kecamatan Labuhan maringgai kabupaten  Lampung Timur,ternyata masih mempekerjakan anak di bawah umur.
Sebut Saja Putri (bukan nama sebenarnya-Red) asal  Desa braja indah kecamatan braja Selabah Kabupaten Lampung Timur.
 Anak berusia 17 Tahun ini saat di temui awak media,Kamis (01/03/2021) sekira jam 00,14 mengaku bekerja menemani Tamu yang berkunjung di Cafe untuk minum minuman keras,diCafe yang buka jam 18,00 sampai jam 12 malam tuturnya.
Hal inipun dibenarkan Maryati (35 th) yang merupakan ibu kandung Putri sekaligus  rekan kerja di Cafe tersebut,namun dirinya merasa mengajak apalagi memaksa Putrinya itu bekerja disitu,walaupun Dirinya mengaku tidak  melarang anak kandungya untuk bekerja di cafe tersebut sebagai pemandu lagu (PL) walau satu profesi dengan ibu kandungnya.
Andri Saleh Sekjend NGO Lantai yang juga Aktivis Pemerhati Anak DiLampung Timur,saat diminta tanggapan terkait Hal tersebut mengaku Prihatin dan sangat menyayangkan Sikap orangtua Putri yang terkesan membiarkan dan menjerumuskan putrinya Sendiri,menurutnya sebagai seorang Ibu,Maryati harus menjaga Putrinya dari hal – hal yang bisa merusak masa Depan putrinya,”mungki kalau ditempat yang baik dan tidak membahayakan no problem,tapi di Situ kan tempat ga karuan,dan bisa membahayakan Putri karena namanyatempat minum pasti banyak yang mabuk,dan Putri pasti ikut minum,dan ini berbahaya baik bagi kesehatan Putri maupun bagi mental dan tingkah laku putri,coba kalau putri mabuk dan tiba2 ada Pengunjung yang melecehkan Putri,bisa hancur masa depan putri”pungkasnya.
(Supriyono/tim)
344 views

Leave a Comment